Pernahkah Anda mencoba menghitung berapa kali berkedip dalam satu menit? Kemungkinan besar sulit dilakukan. Bukan karena berkedip itu rumit, tetapi karena sebagian besar kedipan terjadi tanpa kita sadari.
Saat membaca buku, menatap layar komputer, berbicara dengan seseorang, atau bahkan ketika sedang melamun, kelopak mata terus bergerak membuka dan menutup secara otomatis.
Kedipan mata mungkin terlihat sebagai gerakan sederhana. Namun, sebenarnya kedipan merupakan bagian penting dari sistem perlindungan mata. Gerakan ini membantu menjaga permukaan mata tetap lembap, membersihkan partikel asing, dan mempertahankan kualitas penglihatan.
Lalu, mengapa mata kita harus berkedip? Siapa yang memerintahkannya? Dan mengapa kita tidak perlu berpikir terlebih dahulu sebelum melakukannya?
Mata harus selalu dalam kondisi lembap
Salah satu alasan utama kita berkedip adalah untuk menjaga permukaan mata tetap basah.
Bagian depan mata, terutama kornea, tidak memiliki pembuluh darah secara langsung. Kornea memperoleh oksigen dan berbagai kebutuhan metaboliknya dari lingkungan sekitarnya, termasuk melalui lapisan air mata.
Permukaan mata dilapisi oleh tear film atau lapisan air mata yang sangat tipis.
Lapisan ini bukan sekadar air.
Air mata memiliki beberapa komponen yang membantu menjaga kestabilan permukaan mata. Secara umum, lapisan air mata mengandung komponen lipid, cairan, serta berbagai protein dan zat lain yang membantu melindungi mata.
Setiap kali kita berkedip, kelopak mata menyebarkan lapisan air mata tersebut ke permukaan mata.
Dengan demikian, kedipan bekerja seperti wiper pada kaca depan mobil.
Bedanya, wiper mata kita bekerja secara otomatis dan sangat cepat.
Apa yang terjadi jika kita jarang berkedip?
Ketika mata tidak cukup sering berkedip, lapisan air mata di permukaan mata dapat menjadi tidak merata dan lebih cepat menguap.
Akibatnya, mata dapat terasa:
- kering,
- perih,
- panas,
- seperti ada pasir,
- mudah lelah,
- atau bahkan menjadi berair.
Kondisi ini sering terasa ketika seseorang terlalu lama menatap layar.
Menariknya, ketika mata terasa sangat kering, mata justru dapat mengeluarkan lebih banyak air mata. Ini merupakan salah satu respons perlindungan tubuh terhadap iritasi permukaan mata.
Mengapa kita tidak perlu berpikir untuk berkedip?
Kedipan merupakan salah satu contoh gerakan yang sebagian besar berlangsung secara otomatis.
Tubuh memiliki sistem saraf yang mampu mengatur berbagai fungsi tanpa harus dikendalikan secara sadar. Sistem seperti ini termasuk dalam kerja sistem saraf otonom, meskipun pengaturan kedipan juga melibatkan jaringan saraf motorik dan pusat-pusat saraf tertentu.
Gerakan membuka dan menutup kelopak mata terutama melibatkan otot-otot di sekitar mata.
Otot orbicularis oculi berperan penting dalam menutup kelopak mata.
Ketika otot tersebut berkontraksi, kelopak mata bergerak menutup. Setelah itu, otot yang membantu membuka kelopak mata bekerja sehingga mata kembali terbuka.
Otak mengoordinasikan gerakan tersebut dengan sangat cepat.
Karena sudah menjadi pola motorik otomatis, kita biasanya tidak menyadari setiap kedipan yang terjadi.
Ada kedipan spontan, refleks, dan sadar
Tidak semua kedipan terjadi dengan cara yang sama.
Secara sederhana, kedipan dapat dibedakan menjadi beberapa jenis.
Pertama, kedipan spontan.
Ini adalah kedipan yang terjadi secara alami tanpa rangsangan tertentu. Kedipan seperti inilah yang paling sering kita lakukan sepanjang hari.
Kedua, kedipan refleks.
Kedipan dapat terjadi secara tiba-tiba ketika mata menghadapi sesuatu yang berpotensi membahayakan, misalnya benda yang bergerak cepat menuju mata, sentuhan pada permukaan mata, atau rangsangan tertentu.
Tujuannya adalah melindungi mata.
Ketiga, kedipan sadar.
Kita juga dapat sengaja menutup mata, misalnya ketika seseorang meminta kita berkedip untuk mengambil foto, atau ketika kita sengaja menutup mata beberapa detik.
Jadi, satu gerakan sederhana ternyata dapat dikendalikan melalui beberapa mekanisme berbeda.
Mengapa mata langsung berkedip ketika ada benda mendekat?
Bayangkan sebuah benda kecil tiba-tiba bergerak menuju mata Anda.
Sebelum sempat berpikir, kelopak mata mungkin sudah menutup.
Ini merupakan refleks protektif.
Sistem saraf dapat mendeteksi rangsangan yang dianggap berpotensi membahayakan dan menghasilkan respons motorik yang sangat cepat.
Salah satu refleks penting yang melibatkan mata adalah refleks kornea.
Ketika kornea mendapatkan rangsangan tertentu, sinyal sensorik dapat diteruskan melalui saraf trigeminal menuju sistem saraf pusat. Selanjutnya, sinyal motorik melalui saraf fasialis mengaktifkan otot yang menutup kelopak mata.
Hasilnya:
rangsangan → saraf sensorik → otak/batang otak → saraf motorik → kelopak mata menutup.
Semua terjadi dengan sangat cepat.
Inilah salah satu alasan mengapa mata dapat terlindungi sebelum kita sempat menyadari apa yang sedang terjadi.
Mengapa kita lebih jarang berkedip ketika menatap layar?
Ada fenomena yang sering kita alami ketika menggunakan komputer atau ponsel.
Saat berkonsentrasi membaca atau menatap layar, pola kedipan dapat berubah dan pada banyak orang frekuensi kedipan menjadi lebih rendah.
Perhatian kita terfokus pada objek visual sehingga kita cenderung mempertahankan pandangan lebih lama.
Akibatnya, permukaan mata dapat lebih cepat mengalami kekeringan.
Selain frekuensi kedipan, kelengkapan kedipan juga penting. Jika seseorang hanya melakukan kedipan yang sangat dangkal atau tidak menutup kelopak mata sepenuhnya, penyebaran lapisan air mata mungkin kurang efektif.
Karena itu, setelah menatap layar cukup lama, mata dapat terasa kering atau lelah.
Salah satu kebiasaan sederhana yang dapat membantu adalah sesekali mengalihkan pandangan dan memberikan kesempatan kepada mata untuk berkedip secara normal.
Mengapa kita berkedip lebih banyak ketika mata terganggu?
Ketika mata mengalami iritasi, misalnya karena debu, asap, angin, atau benda asing, sistem sensorik mata dapat mengirimkan sinyal ke sistem saraf.
Tubuh kemudian dapat meningkatkan respons berkedip.
Tujuannya jelas: mengurangi gangguan dan membantu membersihkan permukaan mata.
Kedipan juga membantu mendistribusikan air mata sehingga permukaan mata kembali terlindungi.
Jika benda asing kecil masuk ke mata, kita sering secara spontan berkedip berulang kali dan mata menjadi berair.
Air mata dan kedipan kemudian bekerja sama untuk membantu mengeluarkan benda asing tersebut.
Mengapa kita tidak terus-menerus berkedip?
Jika berkedip sangat penting, mengapa kita tidak berkedip terus-menerus?
Karena sistem tubuh harus menemukan keseimbangan.
Kita perlu berkedip cukup sering untuk menjaga permukaan mata tetap sehat, tetapi kita juga perlu mempertahankan mata terbuka agar dapat melihat lingkungan.
Otak mengatur pola kedipan berdasarkan berbagai faktor, termasuk perhatian, aktivitas visual, kondisi permukaan mata, dan keadaan emosional.
Itulah sebabnya frekuensi kedipan dapat berbeda ketika kita sedang santai, membaca, berbicara, berkonsentrasi, atau merasa gugup.
Apakah manusia selalu berkedip dengan jumlah yang sama?
Tidak.
Frekuensi kedipan dapat berbeda antara satu orang dan orang lainnya, bahkan pada orang yang sama dalam situasi yang berbeda.
Ketika berbicara santai, seseorang dapat berkedip dengan pola yang berbeda dibandingkan ketika membaca secara intens.
Aktivitas yang membutuhkan konsentrasi visual tinggi juga dapat mengubah pola kedipan.
Karena itu, tidak tepat menganggap bahwa setiap manusia harus berkedip dengan jumlah yang persis sama setiap menit.
Tubuh terus menyesuaikan responsnya berdasarkan keadaan.
Kedipan ternyata juga berkaitan dengan otak dan perhatian
Kedipan tidak hanya berfungsi sebagai “pembersih kaca mata”.
Penelitian tentang kedipan menunjukkan bahwa kedipan spontan juga berkaitan dengan aktivitas otak dan perubahan perhatian.
Ketika kita berkedip, otak tidak sekadar “mematikan penglihatan” selama sepersekian detik. Sistem saraf tetap mengolah informasi dan membantu kita mempertahankan persepsi visual yang relatif berkesinambungan.
Ini menjelaskan mengapa kita hampir tidak pernah merasa bahwa dunia benar-benar menghilang setiap kali berkedip.
Otak memiliki kemampuan luar biasa untuk mengintegrasikan informasi visual sehingga gangguan singkat akibat kedipan tidak terlalu kita sadari.
Kedipan adalah contoh kecerdasan biologis tubuh
Bayangkan jika kita harus mengingat untuk berkedip setiap beberapa detik.
Membaca akan terasa sangat merepotkan.
Berbicara dengan orang lain menjadi tidak nyaman.
Bahkan melakukan aktivitas sehari-hari akan terganggu.
Untungnya, tubuh mengatur sebagian besar proses tersebut secara otomatis.
Kedipan terjadi melalui koordinasi antara mata, saraf sensorik, otak, saraf motorik, otot kelopak mata, dan sistem air mata.
Semuanya bekerja dalam waktu yang sangat singkat.
Kita hanya menyadari hasilnya ketika mata terasa kering, terkena debu, atau ketika seseorang meminta kita untuk tidak berkedip.
Jadi, mengapa mata kita berkedip tanpa disadari?
Jawabannya adalah karena berkedip merupakan mekanisme otomatis yang sangat penting untuk menjaga dan melindungi mata.
Setiap kali berkedip, kelopak mata membantu menyebarkan lapisan air mata, menjaga permukaan kornea tetap lembap, membantu mengangkat partikel kecil, dan memberikan perlindungan ketika mata menghadapi rangsangan yang berpotensi membahayakan.
Sebagian besar kedipan berlangsung tanpa kita sadari karena sistem saraf telah mengatur gerakan tersebut secara otomatis.
Jadi, kedipan yang selama ini kita anggap sebagai gerakan sepele ternyata merupakan salah satu contoh kecanggihan tubuh manusia.
Dalam satu kedipan yang hanya berlangsung sesaat, tubuh sedang melakukan pekerjaan penting: membersihkan, melembapkan, melindungi, sekaligus membantu mempertahankan penglihatan.
Mungkin kita tidak pernah menghitung berapa kali berkedip dalam sehari. Namun, tanpa kita sadari, kelopak mata terus bekerja sepanjang hari demi menjaga salah satu indera terpenting yang kita miliki.
Referensi
- Hall, J. E. (2021). Guyton and Hall Textbook of Medical Physiology. Elsevier.
- Kandel, E. R., Koester, J. D., Mack, S. H., & Siegelbaum, S. A. (2021). Principles of Neural Science. McGraw-Hill.
- Remington, L. A. (2012). Clinical Anatomy and Physiology of the Visual System. Elsevier.
- Silverthorn, D. U. (2019). Human Physiology: An Integrated Approach. Pearson.
- Stern, M. E., Beuerman, R. W., & Pflugfelder, S. C. (2004). The pathology of dry eye: the interaction between the ocular surface and lacrimal glands. Cornea, 23(7 Suppl), S34–S39.
- Wolkoff, P. (2020). Indoor air humidity, air quality, and health – An overview. International Journal of Hygiene and Environmental Health, 228, 113539.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar