Pernahkah Anda sedang membersihkan rumah, berada di jalan yang berdebu, atau membuka tumpukan buku lama, lalu tiba-tiba hidung terasa geli dan tanpa bisa ditahan Anda bersin?
“Haaacchii!”
Bersin sering dianggap sebagai sesuatu yang mengganggu. Bahkan, kita terkadang berusaha menahannya karena merasa tidak nyaman atau malu ketika bersin di depan orang lain. Padahal, bersin sebenarnya merupakan salah satu mekanisme pertahanan tubuh yang sangat penting.
Tubuh kita memiliki sistem yang cukup cerdas untuk mendeteksi benda asing yang masuk melalui hidung. Ketika debu atau partikel tertentu mengganggu bagian dalam hidung, sistem saraf akan mengaktifkan refleks bersin.
Lalu, bagaimana sebenarnya proses tersebut terjadi?
Hidung bukan sekadar tempat keluar-masuk udara
Ketika bernapas, udara masuk melalui hidung sebelum diteruskan menuju saluran pernapasan.
Namun, udara yang kita hirup tidak selalu bersih. Di dalamnya dapat terdapat debu, serbuk sari, asap, mikroorganisme, dan berbagai partikel berukuran sangat kecil.
Untungnya, hidung memiliki beberapa mekanisme untuk menyaring benda-benda tersebut.
Rambut hidung dapat menangkap sebagian partikel yang berukuran lebih besar. Selain itu, permukaan bagian dalam hidung dilapisi mukus atau lendir yang dapat menangkap partikel-partikel kecil.
Di dalam lendir tersebut juga terdapat berbagai komponen pertahanan tubuh.
Dengan demikian, hidung sebenarnya merupakan salah satu garis pertahanan pertama sistem pernapasan.
Tetapi bagaimana jika partikel yang masuk tetap mengganggu jaringan hidung?
Di sinilah refleks bersin bekerja.
Debu dapat mengaktifkan saraf di dalam hidung
Di dalam rongga hidung terdapat ujung-ujung saraf sensorik yang sangat peka terhadap berbagai rangsangan.
Ketika debu atau benda asing menyentuh dan mengiritasi lapisan hidung, reseptor sensorik dapat mendeteksi gangguan tersebut.
Informasi kemudian dikirim melalui saraf menuju otak.
Salah satu saraf yang berperan penting dalam proses ini adalah saraf trigeminal, yaitu saraf kranial yang membawa berbagai informasi sensorik dari wajah, termasuk sebagian sensasi dari rongga hidung.
Otak kemudian memproses sinyal tersebut.
Jika rangsangan dianggap cukup mengganggu, otak mengaktifkan suatu pola respons otomatis yang disebut refleks bersin.
Menariknya, kita tidak perlu memutuskan secara sadar untuk bersin.
Tubuh melakukannya secara otomatis.
Bersin sebenarnya adalah “ledakan udara” yang terkoordinasi
Ketika refleks bersin aktif, sejumlah otot tubuh bekerja secara berurutan.
Otot-otot yang terlibat dalam pernapasan berkontraksi sehingga tekanan di dalam rongga dada dan saluran pernapasan meningkat.
Kemudian, udara dikeluarkan dengan cepat melalui hidung dan mulut.
Gerakan ini membantu membawa keluar berbagai partikel yang mengiritasi saluran hidung.
Jadi, bersin bukan sekadar “mengeluarkan udara”.
Bersin merupakan respons refleks yang melibatkan koordinasi sistem saraf dan berbagai kelompok otot.
Otak mengatur rangkaian gerakan tersebut dengan sangat cepat.
Itulah sebabnya kita sering merasa bahwa bersin terjadi begitu saja.
Mengapa sebelum bersin hidung terasa geli?
Sebelum bersin, banyak orang merasakan sensasi seperti geli, gatal, atau menggelitik di dalam hidung.
Sensasi tersebut merupakan bagian dari proses sensorik yang mendahului refleks bersin.
Ketika ujung saraf di dalam hidung mendeteksi rangsangan, sinyal dikirim menuju sistem saraf pusat.
Otak kemudian menghasilkan respons yang kita rasakan sebagai keinginan untuk bersin.
Setelah rangkaian refleks berlangsung, udara dikeluarkan dengan kuat.
Dengan demikian, sensasi “geli di hidung” sebenarnya merupakan tanda bahwa sistem pertahanan tubuh sedang aktif.
Mengapa kita bisa bersin berkali-kali?
Pernahkah Anda bersin sekali, kemudian beberapa detik kemudian bersin lagi?
Hal tersebut dapat terjadi karena rangsangan yang menyebabkan bersin belum sepenuhnya hilang.
Jika masih terdapat debu atau iritan pada hidung, reseptor sensorik dapat kembali terangsang.
Akibatnya, refleks bersin dapat terjadi lagi.
Selain itu, setiap orang memiliki sensitivitas saluran hidung yang berbeda. Ada orang yang mudah bersin hanya karena sedikit debu, sedangkan orang lain mungkin membutuhkan rangsangan yang lebih kuat.
Karena itu, jumlah bersin tidak selalu sama pada setiap orang.
Tidak hanya debu yang menyebabkan bersin
Debu memang merupakan salah satu pemicu bersin, tetapi bukan satu-satunya.
Bersin juga dapat dipicu oleh:
- serbuk sari tumbuhan,
- asap rokok,
- parfum atau bahan kimia tertentu,
- udara dingin,
- bulu atau serpihan kulit hewan,
- infeksi saluran pernapasan,
- serta berbagai iritan lainnya.
Pada sebagian orang, debu atau serbuk sari dapat memicu reaksi alergi.
Ketika sistem kekebalan tubuh menganggap zat tertentu sebagai ancaman, tubuh dapat menghasilkan respons imun yang menyebabkan hidung gatal, berair, tersumbat, dan bersin berulang.
Inilah yang sering terjadi pada kondisi seperti rinitis alergi.
Mengapa kita bersin ketika terkena cahaya terang?
Ada fenomena yang cukup unik: sebagian orang dapat bersin ketika tiba-tiba melihat cahaya yang sangat terang, misalnya ketika keluar dari ruangan gelap menuju tempat yang terkena sinar matahari.
Fenomena ini dikenal sebagai photic sneeze reflex.
Mekanismenya belum sepenuhnya dipahami, tetapi diduga melibatkan hubungan atau interaksi antara jalur sensorik penglihatan dan jalur saraf yang berkaitan dengan refleks bersin.
Fenomena ini juga tidak dialami oleh semua orang.
Jadi, jika seseorang tiba-tiba bersin ketika keluar rumah pada siang hari, hal tersebut belum tentu karena debu.
Bisa jadi cahaya teranglah yang memicu refleks tersebut.
Mengapa bersin bisa terasa sangat kuat?
Bersin dapat menghasilkan hembusan udara yang sangat cepat.
Hal ini terjadi karena tubuh terlebih dahulu membangun tekanan melalui kontraksi otot-otot pernapasan, kemudian melepaskannya secara tiba-tiba.
Gerakan tersebut membantu mendorong keluar iritan dari saluran hidung.
Namun, bukan berarti semua partikel akan berhasil dikeluarkan. Sebagian tetap dapat tertinggal atau berpindah ke lingkungan sekitar.
Karena itulah menutup hidung dan mulut dengan tisu atau menggunakan bagian dalam siku ketika bersin merupakan kebiasaan yang baik, terutama ketika sedang mengalami infeksi saluran pernapasan.
Mengapa kita tidak sebaiknya menahan bersin dengan menutup hidung dan mulut rapat-rapat?
Bersin merupakan refleks alami. Dalam situasi tertentu, kita memang perlu mengendalikan arah keluarnya droplet agar tidak mengenai orang lain.
Namun, menahan bersin dengan menutup hidung dan mulut secara rapat dapat meningkatkan tekanan di saluran pernapasan.
Dalam kasus yang jarang terjadi, menahan bersin dengan cara tersebut dapat menyebabkan cedera pada struktur tubuh.
Cara yang lebih aman adalah mengalihkan bersin ke tisu atau bagian dalam siku, bukan menutup hidung dan mulut rapat-rapat untuk menghentikan refleks tersebut.
Bersin adalah contoh kerja sama sistem tubuh
Satu kali bersin mungkin hanya berlangsung dalam waktu singkat.
Namun, di baliknya terdapat kerja sama yang sangat kompleks.
Hidung mendeteksi iritan.
Reseptor sensorik mengirimkan informasi.
Saraf trigeminal membawa sinyal menuju sistem saraf pusat.
Otak mengatur refleks bersin.
Otot-otot pernapasan kemudian berkontraksi dan menghasilkan hembusan udara yang kuat.
Semua itu berlangsung dalam waktu yang sangat singkat dan sebagian besar terjadi tanpa kendali sadar kita.
Jadi, mengapa kita bersin saat hidung kemasukan debu?
Jawabannya sederhana: karena tubuh sedang berusaha melindungi saluran pernapasan.
Ketika debu masuk ke hidung dan mengiritasi jaringan, reseptor sensorik mendeteksinya. Sinyal tersebut diteruskan melalui sistem saraf, kemudian otak mengaktifkan refleks bersin.
Udara kemudian dikeluarkan dengan cepat untuk membantu mengusir partikel yang mengganggu.
Jadi, bersin sebenarnya bukan tanda bahwa tubuh kita “lemah”.
Sebaliknya, bersin merupakan salah satu contoh bagaimana tubuh memiliki sistem pertahanan otomatis yang bekerja bahkan tanpa kita perintahkan.
Lain kali ketika Anda bersin setelah menghirup debu, jangan hanya menganggapnya sebagai gangguan.
Di balik satu suara “haaacchii!”, sebenarnya sedang berlangsung sebuah mekanisme pertahanan tubuh yang sangat terkoordinasi.
Tubuh kita mungkin tidak selalu meminta izin sebelum bersin, tetapi ia sedang melakukan sesuatu yang penting: menjaga agar saluran pernapasan tetap terlindungi.
Referensi
- Hall, J. E. (2021). Guyton and Hall Textbook of Medical Physiology. Elsevier.
- Kandel, E. R., Koester, J. D., Mack, S. H., & Siegelbaum, S. A. (2021). Principles of Neural Science. McGraw-Hill.
- Pappas, D. E. (2023). Upper respiratory tract infections. Dalam berbagai kajian pediatri dan penyakit saluran pernapasan. American Academy of Pediatrics.
- Silverthorn, D. U. (2019). Human Physiology: An Integrated Approach. Pearson.
- Tortora, G. J., & Derrickson, B. (2017). Principles of Anatomy and Physiology. Wiley.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar