Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan remaja masa kini. Melalui gawai di tangan, murid dapat belajar, berkomunikasi, dan mengekspresikan diri. Namun di sisi lain, media sosial juga membawa tantangan besar bagi akhlak. Kata-kata yang mudah diketik, komentar yang cepat dilontarkan, dan konten yang tak selalu terkontrol sering kali menjauhkan remaja dari adab dan etika yang diajarkan Islam.
Islam mengajarkan bahwa akhlak seorang mukmin tidak
berubah oleh tempat dan zaman, termasuk di dunia maya. Allah Swt.
berfirman:
Ayat ini bersifat umum, mencakup semua bentuk komunikasi,
baik lisan, tulisan, maupun digital. Komentar di media sosial, pesan singkat,
dan unggahan status semuanya termasuk “ucapan” yang akan dimintai
pertanggungjawaban.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
Hadis ini menjadi prinsip utama akhlak bermedia sosial.
Tidak semua hal perlu dikomentari, tidak semua emosi harus diluapkan, dan tidak
semua informasi pantas disebarkan.
Dari sudut pandang sains, penggunaan media sosial yang tidak
bijak berdampak langsung pada perkembangan otak remaja. Otak bagian prefrontal
cortex—yang berfungsi mengendalikan emosi, menimbang benar dan salah, serta
membuat keputusan—belum berkembang sempurna pada usia remaja. Akibatnya, remaja
lebih mudah terpancing emosi, impulsif, dan kurang mempertimbangkan dampak
jangka panjang dari apa yang diunggah atau ditulis.
Penelitian neurosains menunjukkan bahwa “like”, komentar,
dan notifikasi memicu pelepasan dopamin di otak, yaitu zat kimia yang
menimbulkan rasa senang. Jika tidak dikendalikan, murid bisa terjebak pada
pencarian pengakuan semu, rela berkata kasar, pamer berlebihan, bahkan
menyakiti orang lain demi perhatian (Montag & Diefenbach, 2018).
Di sinilah akhlak Islam berperan sebagai pengendali
internal. Murid berakhlak di era media sosial adalah murid yang:
- Menjaga
lisan digitalnya dari hinaan, hoaks, dan ujaran kebencian
- Tidak
membuka aib orang lain atau ikut menyebarkannya
- Menggunakan
media sosial untuk kebaikan, ilmu, dan dakwah ringan
- Menghormati
guru, orang tua, dan teman, baik di dunia nyata maupun maya
Allah Swt. mengingatkan:
Ayat ini mengajarkan bahwa jejak digital bukan hanya
tersimpan di internet, tetapi juga dicatat sebagai amal perbuatan. Apa yang
diunggah hari ini bisa menjadi penyesalan di masa depan, atau sebaliknya
menjadi amal jariyah jika berisi kebaikan.
Media sosial sejatinya adalah alat, bukan penentu akhlak.
Dengan iman yang kuat, ilmu yang benar, dan kesadaran diri, murid dapat
menjadikan media sosial sebagai sarana belajar, berbagi inspirasi, dan
memperkuat ukhuwah. Murid berakhlak tidak diukur dari seberapa aktif ia di
media sosial, tetapi dari seberapa bijak dan bertanggung jawab ia
menggunakannya.
Menjadi murid berakhlak di era media sosial berarti mampu
menahan diri ketika mudah meluapkan emosi, memilih diam saat kata-kata bisa
menyakiti, dan berani menyebarkan kebaikan meski tidak selalu mendapat pujian.
Inilah akhlak mulia yang relevan sepanjang zaman—akhlak yang menjaga iman,
melindungi otak, dan menuntun masa depan.
Daftar Pustaka
Bukhari, M. I. 2002. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Dar Ibn
Katsir. Beirut.
Kementerian Agama Republik Indonesia. 2019. Al-Qur’an dan
Terjemahannya. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an. Jakarta.
Montag, C., & Diefenbach, S. 2018. Towards Homo
Digitalis: Important Research Issues for Psychology and the Neurosciences at
the Dawn of the Internet of Things and the Digital Society. Sustainability,
10(2), 415.
Muslim, M. H. 2002. Ṣaḥīḥ Muslim. Dar Ihya’ al-Turats
al-‘Arabi. Beirut.
Twenge, J. M. 2017. iGen: Why Today’s Super-Connected
Kids Are Growing Up Less Rebellious, More Tolerant, Less Happy. Atria
Books. New York.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar