Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan remaja masa kini. Melalui gawai di tangan, murid dapat belajar, berkomunikasi, dan mengekspresikan diri. Namun di sisi lain, media sosial juga membawa tantangan besar bagi akhlak. Kata-kata yang mudah diketik, komentar yang cepat dilontarkan, dan konten yang tak selalu terkontrol sering kali menjauhkan remaja dari adab dan etika yang diajarkan Islam.
Islam mengajarkan bahwa akhlak seorang mukmin tidak berubah oleh tempat dan zaman, termasuk di dunia maya. Allah Swt. berfirman:
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا
“Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 83)
Ayat ini bersifat umum, mencakup semua bentuk komunikasi, baik lisan, tulisan, maupun digital. Komentar di media sosial, pesan singkat, dan unggahan status semuanya termasuk “ucapan” yang akan dimintai pertanggungjawaban.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari No. 6018 dan Muslim No. 47)
Hadis ini menjadi prinsip utama akhlak bermedia sosial. Tidak semua hal perlu dikomentari, tidak semua emosi harus diluapkan, dan tidak semua informasi pantas disebarkan.
Dari sudut pandang sains, penggunaan media sosial yang tidak bijak berdampak langsung pada perkembangan otak remaja. Otak bagian prefrontal cortex—yang berfungsi mengendalikan emosi, menimbang benar dan salah, serta membuat keputusan—belum berkembang sempurna pada usia remaja. Akibatnya, remaja lebih mudah terpancing emosi, impulsif, dan kurang mempertimbangkan dampak jangka panjang dari apa yang diunggah atau ditulis.
Penelitian neurosains menunjukkan bahwa “like”, komentar, dan notifikasi memicu pelepasan dopamin di otak, yaitu zat kimia yang menimbulkan rasa senang. Jika tidak dikendalikan, murid bisa terjebak pada pencarian pengakuan semu, rela berkata kasar, pamer berlebihan, bahkan menyakiti orang lain demi perhatian (Montag & Diefenbach, 2018).
Di sinilah akhlak Islam berperan sebagai pengendali internal. Murid berakhlak di era media sosial adalah murid yang:
-
Menjaga lisan digitalnya dari hinaan, hoaks, dan ujaran kebencian
-
Tidak membuka aib orang lain atau ikut menyebarkannya
-
Menggunakan media sosial untuk kebaikan, ilmu, dan dakwah ringan
-
Menghormati guru, orang tua, dan teman, baik di dunia nyata maupun maya
Allah Swt. mengingatkan:
مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tidak ada satu kata pun yang diucapkannya melainkan ada malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.”
(QS. Qaf [50]: 18)
Ayat ini mengajarkan bahwa jejak digital bukan hanya tersimpan di internet, tetapi juga dicatat sebagai amal perbuatan. Apa yang diunggah hari ini bisa menjadi penyesalan di masa depan, atau sebaliknya menjadi amal jariyah jika berisi kebaikan.
Media sosial sejatinya adalah alat, bukan penentu akhlak. Dengan iman yang kuat, ilmu yang benar, dan kesadaran diri, murid dapat menjadikan media sosial sebagai sarana belajar, berbagi inspirasi, dan memperkuat ukhuwah. Murid berakhlak tidak diukur dari seberapa aktif ia di media sosial, tetapi dari seberapa bijak dan bertanggung jawab ia menggunakannya.
Menjadi murid berakhlak di era media sosial berarti mampu menahan diri ketika mudah meluapkan emosi, memilih diam saat kata-kata bisa menyakiti, dan berani menyebarkan kebaikan meski tidak selalu mendapat pujian. Inilah akhlak mulia yang relevan sepanjang zaman—akhlak yang menjaga iman, melindungi otak, dan menuntun masa depan.
Daftar Pustaka
Bukhari, M. I.
2002. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Dar Ibn Katsir. Beirut.
Kementerian Agama Republik Indonesia.
2019. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an. Jakarta.
Montag, C., & Diefenbach, S.
2018. Towards Homo Digitalis: Important Research Issues for Psychology and the Neurosciences at the Dawn of the Internet of Things and the Digital Society. Sustainability, 10(2), 415.
Muslim, M. H.
2002. Ṣaḥīḥ Muslim. Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi. Beirut.
Twenge, J. M.
2017. iGen: Why Today’s Super-Connected Kids Are Growing Up Less Rebellious, More Tolerant, Less Happy. Atria Books. New York.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar