Di era digital, banyak remaja tumbuh dengan kemampuan teknologi yang tinggi, tetapi sering kali kehilangan sopan santun dalam bersikap dan berbicara. Cara berbicara yang kasar, tidak menghormati guru, membantah orang tua, hingga meremehkan teman menjadi pemandangan yang makin sering ditemui. Islam memandang kondisi ini sebagai tanda melemahnya adab, padahal adab adalah fondasi utama akhlak dan keimanan.
Allah berfirman:
Ayat ini menegaskan bahwa berbicara dengan sopan bukan
sekadar etika sosial, tetapi perintah Allah. Sopan santun mencerminkan kualitas
iman seseorang dan menjadi tolok ukur kematangan akhlaknya.
Rasulullah ﷺ dikenal sebagai teladan akhlak dan adab yang
paling sempurna. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
Hadis ini menunjukkan bahwa adab Nabi ﷺ tidak terpisah dari
ajaran Islam. Cara beliau berbicara, bersikap, dan berinteraksi penuh
kelembutan, kesabaran, dan penghormatan kepada sesama.
Dari sisi psikologi, sopan santun berkaitan erat dengan kecerdasan
emosional dan sosial. Remaja yang mampu mengontrol emosi, menggunakan bahasa
yang baik, dan menghormati orang lain cenderung memiliki hubungan sosial yang
sehat dan tingkat stres lebih rendah. Daniel Goleman (1995) menjelaskan bahwa
kemampuan mengelola emosi dan empati lebih menentukan keberhasilan hidup
dibanding kecerdasan intelektual semata.
Neurosains juga menunjukkan bahwa sopan santun melibatkan
kerja prefrontal cortex, bagian otak yang mengatur pengendalian diri, empati,
dan pertimbangan moral. Remaja yang terbiasa bersikap sopan melatih otaknya
untuk berpikir sebelum berbicara dan bertindak. Sebaliknya, kebiasaan berkata
kasar dan impulsif melemahkan kontrol diri dan meningkatkan konflik sosial
(Steinberg, 2014).
Belajar adab kembali berarti menghidupkan nilai-nilai dasar
Islam dalam kehidupan sehari-hari, seperti:
- Menghormati
orang tua dan guru
- Bertutur
kata lembut dan tidak menyakiti
- Bersikap
rendah hati dan tidak meremehkan
- Menjaga
etika dalam pergaulan dan media sosial
Sopan santun bukan tanda kelemahan, tetapi tanda kekuatan
jiwa. Remaja yang beradab mampu menempatkan diri, menjaga lisan, dan membangun
hubungan yang sehat dengan lingkungan. Inilah bekal penting untuk masa depan,
baik dalam pendidikan, pekerjaan, maupun kehidupan bermasyarakat.
Ketika adab kembali diajarkan dan dipraktikkan, ilmu menjadi
berkah, pergaulan menjadi sehat, dan kehidupan menjadi lebih damai. Inilah
sebabnya mengapa remaja perlu belajar adab lagi—karena adab adalah cermin iman
dan kunci kemuliaan manusia.
Daftar Pustaka
Kementerian Agama Republik Indonesia. 2019. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.
Jakarta.
Muslim, M. H. 2002. Ṣaḥīḥ Muslim. Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi. Beirut.
Goleman, D. 1995. Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ. Bantam
Books. New York.
Steinberg, L. 2014. Adolescence. McGraw-Hill Education. New York.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar