Selasa, 13 Januari 2026

Sopan Santun yang Hilang: Mengapa Remaja Perlu Belajar Adab Lagi?

Di era digital, banyak remaja tumbuh dengan kemampuan teknologi yang tinggi, tetapi sering kali kehilangan sopan santun dalam bersikap dan berbicara. Cara berbicara yang kasar, tidak menghormati guru, membantah orang tua, hingga meremehkan teman menjadi pemandangan yang makin sering ditemui. Islam memandang kondisi ini sebagai tanda melemahnya adab, padahal adab adalah fondasi utama akhlak dan keimanan.

Allah berfirman:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا
“Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 83)

Ayat ini menegaskan bahwa berbicara dengan sopan bukan sekadar etika sosial, tetapi perintah Allah. Sopan santun mencerminkan kualitas iman seseorang dan menjadi tolok ukur kematangan akhlaknya.

Rasulullah ﷺ dikenal sebagai teladan akhlak dan adab yang paling sempurna. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
“Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.”
(HR. Muslim No. 746)

Hadis ini menunjukkan bahwa adab Nabi ﷺ tidak terpisah dari ajaran Islam. Cara beliau berbicara, bersikap, dan berinteraksi penuh kelembutan, kesabaran, dan penghormatan kepada sesama.

Dari sisi psikologi, sopan santun berkaitan erat dengan kecerdasan emosional dan sosial. Remaja yang mampu mengontrol emosi, menggunakan bahasa yang baik, dan menghormati orang lain cenderung memiliki hubungan sosial yang sehat dan tingkat stres lebih rendah. Daniel Goleman (1995) menjelaskan bahwa kemampuan mengelola emosi dan empati lebih menentukan keberhasilan hidup dibanding kecerdasan intelektual semata.

Neurosains juga menunjukkan bahwa sopan santun melibatkan kerja prefrontal cortex, bagian otak yang mengatur pengendalian diri, empati, dan pertimbangan moral. Remaja yang terbiasa bersikap sopan melatih otaknya untuk berpikir sebelum berbicara dan bertindak. Sebaliknya, kebiasaan berkata kasar dan impulsif melemahkan kontrol diri dan meningkatkan konflik sosial (Steinberg, 2014).

Belajar adab kembali berarti menghidupkan nilai-nilai dasar Islam dalam kehidupan sehari-hari, seperti:

  1. Menghormati orang tua dan guru
  2. Bertutur kata lembut dan tidak menyakiti
  3. Bersikap rendah hati dan tidak meremehkan
  4. Menjaga etika dalam pergaulan dan media sosial

Sopan santun bukan tanda kelemahan, tetapi tanda kekuatan jiwa. Remaja yang beradab mampu menempatkan diri, menjaga lisan, dan membangun hubungan yang sehat dengan lingkungan. Inilah bekal penting untuk masa depan, baik dalam pendidikan, pekerjaan, maupun kehidupan bermasyarakat.

Ketika adab kembali diajarkan dan dipraktikkan, ilmu menjadi berkah, pergaulan menjadi sehat, dan kehidupan menjadi lebih damai. Inilah sebabnya mengapa remaja perlu belajar adab lagi—karena adab adalah cermin iman dan kunci kemuliaan manusia.


Daftar Pustaka

Kementerian Agama Republik Indonesia. 2019. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an. Jakarta.

Muslim, M. H. 2002. Ṣaḥīḥ Muslim. Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi. Beirut.

Goleman, D. 1995. Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ. Bantam Books. New York.

Steinberg, L. 2014. Adolescence. McGraw-Hill Education. New York.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar