Emosi adalah bagian dari fitrah manusia. Marah, sedih, takut, dan kecewa adalah perasaan yang wajar, terutama pada masa remaja ketika otak dan kepribadian sedang berkembang. Namun, Islam mengajarkan bahwa bukan emosi yang harus dihilangkan, melainkan dikendalikan. Remaja yang mampu mengendalikan emosi akan memiliki akhlak yang baik, pikiran jernih, dan masa depan yang lebih terarah.
Allah berfirman:
Ayat ini menunjukkan bahwa kemampuan menahan emosi,
khususnya marah, adalah ciri orang beriman dan berakhlak mulia. Menahan
emosi bukan berarti memendamnya secara tidak sehat, tetapi mengelolanya dengan
cara yang benar dan bermakna.
Rasulullah ﷺ juga menegaskan pentingnya pengendalian emosi:
Hadis ini membalik cara pandang umum tentang kekuatan.
Kekuatan sejati adalah kekuatan menguasai diri sendiri, bukan orang
lain.
Dari sisi ilmu otak, neuroscience menjelaskan bahwa emosi
kuat seperti marah dan takut berasal dari amigdala, bagian otak yang
berperan dalam respons cepat terhadap ancaman. Pada remaja, amigdala berkembang
lebih cepat dibanding prefrontal cortex, bagian otak yang berfungsi
mengatur logika, pertimbangan, dan pengendalian diri. Inilah sebabnya remaja
lebih mudah terbawa emosi (Steinberg, 2014).
Namun kabar baiknya, pengendalian emosi bisa dilatih.
Kebiasaan menahan marah, berpikir sebelum bertindak, berzikir, dan berdoa
memperkuat koneksi prefrontal cortex dengan pusat emosi. Penelitian menunjukkan
bahwa latihan regulasi emosi, termasuk refleksi diri dan praktik spiritual,
dapat menurunkan stres dan meningkatkan ketenangan batin (Gross, 2015).
Islam telah lama mengajarkan strategi pengendalian emosi,
seperti:
- Beristighfar
dan mengingat Allah saat marah
- Mengubah
posisi (dari berdiri menjadi duduk atau berbaring)
- Berwudu
untuk menenangkan diri
- Menunda
reaksi dan memilih memaafkan
Semua ini selaras dengan ilmu psikologi modern tentang emotion
regulation.
Bagi remaja, mengendalikan emosi berarti:
- Tidak
mudah terpancing konflik
- Mampu
berpikir jernih saat menghadapi masalah
- Menjaga
lisan dan perbuatan
- Membentuk
kepribadian dewasa dan berakhlak mulia
Ketika emosi terkendali, iman menjadi kuat, akhlak menjadi
indah, dan otak bekerja lebih optimal. Inilah bukti bahwa ajaran Islam tidak
hanya membentuk kesalehan spiritual, tetapi juga selaras dengan ilmu otak dan
kesehatan mental manusia.
Daftar Pustaka
Kementerian Agama Republik Indonesia. 2019. Al-Qur’an dan
Terjemahannya. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an. Jakarta.
Bukhari, M. I. 2002. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Dar Ibn
Katsir. Beirut.
Muslim, M. H. 2002. Ṣaḥīḥ Muslim. Dar Ihya’ al-Turats
al-‘Arabi. Beirut.
Steinberg, L. 2014. Adolescence. McGraw-Hill
Education. New York.
Gross, J. J. 2015. Emotion Regulation: Current Status and
Future Prospects. Psychological Inquiry, 26(1), 1–26.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar