Selasa, 13 Januari 2026

Hijrah Remaja: Berubah Itu Mungkin dan Ilmiah

 Banyak remaja ingin berubah menjadi lebih baik, tetapi ragu pada dirinya sendiri. Ada yang berkata, “Aku sudah terlanjur seperti ini,” atau “Susah berubah, sudah kebiasaan.” Hijrah sering dianggap hanya cocok untuk orang dewasa atau orang yang sudah “rusak parah”. Padahal dalam Islam, hijrah justru sangat dianjurkan sejak muda, dan dalam sains modern, perubahan diri terbukti sangat mungkin secara ilmiah.

Kata hijrah secara bahasa berarti berpindah. Bukan hanya pindah tempat, tetapi berpindah dari kebiasaan buruk menuju kebiasaan baik, dari gelap menuju terang, dari maksiat menuju taat. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa hijrah bukan soal penampilan semata, tetapi perubahan perilaku dan hati. Hijrah adalah proses, bukan sulap. Dan Islam tidak pernah memerintahkan sesuatu yang mustahil dilakukan manusia.

Allah Swt. berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d [13]: 11)

Ayat ini sering dibaca, tetapi jarang direnungkan secara mendalam. Allah menegaskan bahwa perubahan itu dimulai dari dalam diri, dari niat, pikiran, dan keputusan. Ini sejalan dengan prinsip psikologi dan neurosains modern.

Dalam ilmu otak, dikenal konsep neuroplastisitas, yaitu kemampuan otak untuk berubah, membentuk koneksi baru, dan memperbaiki diri sepanjang hidup. Artinya, otak manusia—terutama otak remaja—tidak kaku. Justru masa remaja adalah masa emas perubahan.

Setiap kebiasaan, baik atau buruk, terbentuk karena jalur saraf yang sering dipakai. Jika seseorang terbiasa berkata kasar, malas belajar, atau melakukan maksiat, maka jalur itu menjadi kuat. Namun kabar baiknya, jalur itu bisa dilemahkan, dan diganti dengan jalur baru melalui kebiasaan baik yang diulang.

Inilah yang dalam Islam disebut sebagai mujahadah—bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi yang mampu menahan dirinya ketika marah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Menahan diri, mengubah kebiasaan, dan istiqamah memang tidak mudah. Tetapi sains membuktikan bahwa dengan pengulangan, lingkungan yang baik, dan tujuan yang jelas, otak akan menyesuaikan diri. Apa yang awalnya berat, lama-kelamaan menjadi ringan.

Hijrah juga berdampak besar pada kesehatan mental. Remaja yang mulai menjaga shalat, mengurangi maksiat, dan memilih pergaulan yang baik, terbukti lebih stabil secara emosi, lebih tenang, dan memiliki rasa makna hidup. Hal ini karena ibadah dan perilaku baik menurunkan hormon stres (kortisol) dan meningkatkan rasa kontrol diri.

Al-Qur’an menggambarkan ketenangan orang yang dekat dengan Allah:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d [13]: 28)

Hijrah bukan berarti tidak pernah jatuh lagi. Dalam proses perubahan, terpeleset itu manusiawi. Yang penting adalah tidak berhenti bangkit. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bertaubat.”
(HR. Tirmidzi)

Psikologi modern menyebut sikap ini sebagai growth mindset, yaitu keyakinan bahwa diri bisa berkembang melalui usaha, bukan ditentukan oleh masa lalu. Islam telah mengajarkan konsep ini sejak lama melalui taubat dan harapan akan rahmat Allah.

Hijrah remaja juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Teman yang baik, guru yang peduli, dan bacaan yang menyehatkan pikiran akan mempercepat perubahan. Karena itu Rasulullah ﷺ mengingatkan:

“Seseorang itu tergantung agama temannya.”
(HR. Abu Dawud)

Hijrah bukan tentang menjadi sempurna, tetapi menjadi lebih baik dari hari kemarin. Setiap langkah kecil—meninggalkan satu dosa, menambah satu ibadah, memperbaiki satu akhlak—adalah hijrah yang bernilai besar di sisi Allah.

Bagi remaja, hijrah bukan tanda kelemahan, tetapi tanda kecerdasan dan keberanian. Cerdas karena memahami dampak perbuatan bagi masa depan. Berani karena melawan arus yang salah. Islam dan sains sepakat dalam satu hal: berubah itu mungkin, dan masa muda adalah waktu terbaik untuk memulainya.


Daftar Pustaka

Kementerian Agama Republik Indonesia. 2019. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an. Jakarta.

Doidge, N. 2007. The Brain That Changes Itself. Viking Press. New York.

Dweck, C. S. 2006. Mindset: The New Psychology of Success. Random House. New York.

Gazzaniga, M. S., Heatherton, T. F., & Halpern, D. F. 2018. Psychological Science. W. W. Norton & Company. New York.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar