Selasa, 13 Januari 2026

Gadget: Alat Belajar atau Perusak Masa Depan?

Gadget menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan remaja. Dari ponsel, tablet, hingga komputer, alat ini bisa menjadi sumber ilmu atau perusak masa depan, tergantung cara menggunakannya. Islam mengajarkan penggunaan yang bijak, sedangkan sains menunjukkan dampak otak dari kebiasaan digital.

Allah berfirman:

وَأَلْقَى فِي قَلْبِكَ مَا كَانَ مِنْهُ نُورًا
“Dan Dia menaruh dalam hatimu cahaya dari-Nya.”
(QS. Al-Ma’idah [5]: 15)

Ayat ini mengingatkan bahwa hati dan akal adalah sarana Allah menanamkan ilmu dan petunjuk. Gadget dapat menjadi media menyalurkan cahaya ilmu jika digunakan untuk belajar, membaca Al-Qur’an digital, menonton video edukatif, atau mengikuti kursus online. Namun, jika digunakan untuk konten negatif, game berlebihan, atau media sosial tanpa batas, gadget justru mengaburkan cahaya itu.

Dari sisi sains, neuroscience menunjukkan bahwa penggunaan gadget berlebihan dapat mengubah pola saraf otak remaja. Aktivitas berlebihan pada media sosial meningkatkan kecanduan dopamin, menurunkan kemampuan fokus, dan memengaruhi kontrol diri (Montag et al., 2019). Sebaliknya, penggunaan gadget untuk belajar, membaca, dan kreativitas meningkatkan cognitive stimulation dan memperkuat jalur saraf positif.

Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

مَنْ يَسْتَعْمِلِ الْوَقْتَ فِي طَاعَةِ اللَّهِ فَقَدْ أَفْلَحَ
“Barang siapa menggunakan waktunya untuk ketaatan kepada Allah, maka ia beruntung.”
(HR. Al-Baihaqi No. 13415)

Hadis ini menekankan bahwa cara menggunakan waktu dan alat—termasuk gadget—menentukan keberhasilan dan manfaat bagi diri sendiri. Bagi remaja, prinsipnya adalah:

  1. Gadget untuk belajar dan kreativitas → menambah ilmu, meningkatkan prestasi, dan ibadah digital
  2. Gadget untuk hiburan berlebihan → mengganggu konsentrasi, menghambat akhlak, dan merugikan otak
  3. Kendalikan waktu penggunaan gadget agar tetap seimbang dengan ibadah, belajar, dan interaksi sosial nyata

Dengan menyadari fungsi gadget sebagai alat atau potensi bahaya, remaja belajar bertanggung jawab, mengatur diri, dan menggunakan teknologi secara produktif. Gadget yang dikelola dengan iman dan akal akan menjadi sarana menambah ilmu dan prestasi, bukan perusak masa depan.

 

Daftar Pustaka

Kementerian Agama Republik Indonesia. 2019. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an. Jakarta.

Al-Baihaqi, A. 2007. Sunan al-Baihaqi. Dar al-Fikr. Beirut.

Montag, C., & Diefenbach, S. 2019. Towards Homo Digitalis: Important Research Issues for Psychology and the Neurosciences at the Dawn of the Internet of Things and the Digital Society. Sustainability, 11(1), 109.

Steinberg, L. 2014. Adolescence. McGraw-Hill Education. New York.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar