Marah sering dianggap sebagai emosi yang buruk dan harus dihilangkan. Banyak remaja merasa bersalah ketika marah, atau sebaliknya meluapkan marah tanpa kendali. Padahal, emosi—termasuk marah—bukan musuh. Emosi adalah bagian dari fitrah manusia. Yang menjadi masalah bukan munculnya emosi, tetapi cara mengelolanya.
Islam tidak pernah melarang marah, tetapi mengajarkan bagaimana marah tidak berubah menjadi dosa dan kerusakan. Rasulullah ﷺ bersabda:
Hadis ini bukan berarti larangan merasakan marah sama sekali, tetapi perintah agar tidak menuruti amarah. Marah boleh muncul, tetapi tidak boleh menguasai akal dan tindakan.
Al-Qur’an memuji orang yang mampu mengendalikan emosinya. Allah Swt. berfirman:
Ayat ini menunjukkan bahwa mengelola marah adalah tanda kedewasaan iman. Orang yang mampu menahan amarahnya tidak sedang kalah, justru sedang menang melawan dirinya sendiri.
Ilmu otak menjelaskan bahwa saat marah, bagian otak yang bernama amigdala menjadi sangat aktif. Amigdala bertugas mendeteksi ancaman dan memicu respons cepat seperti melawan atau menyerang. Sementara itu, prefrontal cortex—bagian otak yang berfungsi berpikir jernih dan mempertimbangkan akibat—sementara “melemah”. Inilah sebabnya orang yang marah sering berkata atau bertindak tanpa berpikir.
Kabar baiknya, otak manusia bisa dilatih. Jika seseorang terbiasa menunda reaksi ketika marah—bernapas, diam sejenak, atau berwudu—maka prefrontal cortex akan kembali mengambil alih kendali. Inilah penjelasan ilmiah mengapa ajaran Islam tentang mengelola marah sangat efektif.
Rasulullah ﷺ memberikan langkah-langkah praktis ketika marah. Beliau bersabda:
Diam memberi waktu bagi otak untuk menenangkan amigdala. Selain itu, Rasulullah ﷺ juga bersabda:
Karena itu, Rasulullah ﷺ menganjurkan berwudu saat marah. Dari sudut pandang sains, air membantu menurunkan ketegangan fisik dan menenangkan sistem saraf.
Psikologi modern menyebut keterampilan ini sebagai emotional regulation, yaitu kemampuan mengenali, menerima, dan mengelola emosi dengan cara yang sehat. Penelitian menunjukkan bahwa remaja yang mampu mengelola emosi memiliki tingkat stres lebih rendah, hubungan sosial lebih baik, dan risiko perilaku agresif yang lebih kecil.
Islam juga mengajarkan mengubah posisi saat marah. Jika marah dalam keadaan berdiri, dianjurkan duduk; jika duduk, dianjurkan berbaring. Ini selaras dengan ilmu fisiologi, karena perubahan posisi tubuh membantu menurunkan ketegangan otot dan memperlambat respons stres.
Marah yang tidak dikelola dapat merusak diri sendiri dan orang lain. Namun marah yang dikelola dengan baik justru dapat menjadi energi untuk memperbaiki keadaan. Marah karena melihat ketidakadilan, misalnya, bisa mendorong seseorang berbuat kebaikan—selama tetap dalam kendali iman dan akal.
Bagi remaja, mengelola marah berarti tidak langsung membalas hinaan, tidak meluapkan emosi di media sosial, dan tidak mengambil keputusan penting saat emosi memuncak. Inilah tanda kedewasaan sejati.
Allah Swt. menjanjikan balasan besar bagi orang yang mampu menahan marah. Rasulullah ﷺ bersabda:
Ini menunjukkan bahwa mengelola marah bukan kelemahan, tetapi kemuliaan di sisi Allah.
Emosi bukan musuh. Marah bukan dosa. Yang menentukan adalah bagaimana seseorang menyikapinya. Islam dan sains sepakat: remaja yang mampu mengelola marah adalah remaja yang kuat, tenang, dan siap menghadapi masa depan.
Daftar Pustaka
Al-Bukhari, M. I. 2002. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Dar Ibn Katsir. Beirut.
Abu Dawud, S. 2009. Sunan Abi Dawud. Dar ar-Risalah al-‘Alamiyyah. Beirut.
Kementerian Agama Republik Indonesia. 2019. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an. Jakarta.
Goleman, D. 1995. Emotional Intelligence. Bantam Books. New York.
Siegel, D. J. 2012. The Developing Mind. Guilford Press. New York.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar